SEJARAH KEDIRI
ASAL-USUL KEDIRI
Kerajaan Kadhiri disebut juga Panjalu, merupakan sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur dan berkuasa tahun 1042-1222. Kerajaan Kediri merupakan kerajaan Hindu di Pulau Jawa yang tumbuh pada abad ke-11 masehi. Raja-raja di Kerajaan Kediri merupakan keturunan dari Raja Airlangga. Raja Airlangga berkuasa di kerajaan Medangkamulan. Di tengah kejayaannya, Airlangga kemudian memindahkan pemerintahan ke wilayah Kahuripan. Kerajaan ini disebut dengan Panjalu dengan pusat pemerintahan berada di Daha. Kisah ini tertuang dalam kitab Negarakertagama. Airlangga sendiri sebenarnya merupakan Putra dari Udayana yang berkuasa di Bali, setelah pelariannya ke Jawa bagian Timur.
Kerajaan Kadhiri berpusat di Dahanapura (Daha), yang menjadi bagian Kota Kediri sekarang. Kerajaan Kadhiri (sekarang Kediri) merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara. Kekuasaan Kerajaan Kediri sangat luas hingga seluruh pulau Jawa dan sebagian Sumatera. Bahkan pengaruh kerajaan yang berpusat di Daha ini sangat kuat sehingga mengalahkan pengaruh kerajaan Sriwijaya. Sebelum menggunakan nama Kadhiri, dulunya bernama Dhaha. Dhaha sudah ada sebelum Kerajaan Kadhiri berdiri. Dhaha merupakan singkatan dari Dhahanapura, yang berarti kota api. Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042.
Berita dalam Serat Calon Arang menuliskan, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Dhaha.
Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, Daha, sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.
Airlangga memiliki dua putra yakni, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Kedua putra Airlangga ini ternyata saling berebut kekuasaan. Untuk menghindari bentrokan pada tahun 1041, Airlangga membagi kerajaannya menjadi dua. Kerajaan tersebut adalah Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri). Kedua kerajaan ini dipisahkan oleh Gunung Kawi dan sungai Brantas.
Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan wilayah barat yakni Kerajaan Panjalu dengan pusat pemerintahan di kota Dhaha. Sementara Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan wilayah timur yang bernama Janggala dengan pusat pemerintahan di Kahuripan.
Menurut Nagarakretagama, sebelum dibelah menjadi dua, nama kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu, yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.
Pembagian dua kerajaan ini dikisahkan dalam prasasti Mahasukbya, serat Calon Arang dan kitab Negarakertagama. Kerajaan Panjalu akhirnya dikenal dengan nama Kadhiri, memiliki wilayah kekuasaan diantaranya wilayah Kediri dan Madiun. Sementara wilayah kekuasaan kerajaan Janggala meliputi daerah Malang dan delta sungai Brantas dengan pelabuhannya Surabaya, Rembang dan Pasuruhan.
Meski kerajaan sudah terbagi dua, namun kedua anak Airlangga merasa berhak atas seluruh tahta Airlangga. Sehingga peperangan terus terjadi diantara kedua kerajaan. Peperangan antara Panjalu dan Jenggala terus terjadi selama 60 tahun lamanya. Meski di awal peperangan Jenggala menang, namun Panjalu lah yang mampu menguasai seluruh tahta Airlangga.Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu Panjalu Jayati, yang berarti "Panjalu Menang".
Dengan kemenangan Panjalu ini, akhirnya ibukota kerajaan dipindahkan dari Daha ke Kediri. Akhirnya Panjalu lebih dikenal dengan nama Kadhiri. Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.
Hal ini diperkuat kronik Tiongkok berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Tiongkok secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Panjalu, sedangkan Sumatra dikuasai Kerajaan Sriwijaya.
Pada mulanya, nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Kadiri. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Tiongkok berjudul Ling wai tai ta (1178).
Chou Ju-kua menggambarkan di Jawa penduduknya menganut dua agama: Buddha dan Hindu. Penduduk Jawa sangat berani dan emosional. Waktu luangnya untuk mengadu binatang. Mata uangnya terbuat dari campuran tembaga dan perak.
Buku Chu-fan-chi menyebut Jawa adalah maharaja yang punya wilayah jajahan: Pai-hua-yuan (Pacitan), Ma-tung (Medang), Ta-pen (Tumapel, Malang), Hi-ning (Dieng), Jung-ya-lu (Hujung Galuh, sekarang Surabaya), Tung-ki (Jenggi, Papua Barat), Ta-kang (Sumba), Huang-ma-chu (Papua), Ma-li (Bali), Kulun (Gurun, mungkin Gorong atau Sorong di Papua Barat atau Nusa Tenggara), Tan-jung-wu-lo (Tanjungpura di Borneo), Ti-wu (Timor), Pingya-i (Banggai di Sulawesi), dan Wu-nu-ku (Maluku).
Nama "Kediri" atau "Kadiri" sendiri berasal dari kata bahasa Sansekerta, khadri, yang berarti pacé atau mengkudu (Morinda citrifolia). Batang kulit kayu pohon ini menghasilkan zat perwarna ungu kecokelatan yang digunakan dalam pembuatan batik, sementara buahnya dipercaya memiliki khasiat pengobatan.
Masa-masa awal Kerajaan Panjalu atau Kadiri tidak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga.
Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui, sedangkan urutan raja-raja sesudah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan.
PENINGGALAN
Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri, diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut. Situs Tondowongso luasnya sekitar 5000m2, ditemukan secara tak sengaja saat penduduk mengeruk tanah sawah setinggi 3 meter. Tidak dinyana, begitu tanah diratakan, nampak muncul tembok-tembok bata dari dalam tanah. Bahkan, beberapa warga juga ditemukan beberapa arca kuno. Ada Arca Brahma, Arca Syiwa juga Nandi. Sekarang sudah disimpan di Museum Trowulan. Di Desa Gayam, Kec. Gurah, Kab. Kediri terdapat gugusan struktur bangunan kuno yang memiliki ciri-ciri sesuai dengan bangunan kuno langgam Jawa Tengah. Ini lah yang dikenal dengan Situs Tondowongso. Situs ini meliputi area yang luas, yang berada dalam dua dusun yakni Dusun Tondowongso dan Sumberpetung, keduanya berada di Desa Gayam.
Situs Tondowongso ditemukan pada akhir 2006. Situs percandian ini ditemukan tertimbun materi vulkanik Gunung Kelud pada kedalaman antara satu sampai tiga meter. Pada tahun 2008 dilaporkan adanya struktur bangunan lain yang berada 200 m di barat lokasi Situs. Struktur ini berada di belakang rumah Pak Ponijo. Sementara itu jauh sebelum penemuan Situs Tondowongso, pada tahun 1950an ditemukan gugusan candi lain yang disebut Situs Candi Gurah. Candi Gurah berada 200 m di selatan lokasi Situs Tondowongso (Candi Gurah dipendam kembali dan kini di atasnya telah menjadi pemukiman). Ketiga situs ini diduga berkaitan berdasarkan kesamaan bahan penyusun, kedekatan posisi, dan kesesuaian orientasi.
Situs Tondowongso terdiri dari candi induk yang menghadap ke barat dan tiga candi perwara (pendamping) yang menghadap ke candi induk. Di sebelah barat gugusan bangunan terdapat struktur gapura, dan di sebelah timur bangunan terdapat sisa pagar kuno (kemungkinan pagar ini mengelilingi gugusan candi). Beberapa puluh meter di selatan gugusan candi juga ditemukan struktur lain yang diduga merupakan gapura. Pada kaki candi dijumpai profil belah rotan dan sisi genta yang merupakan ciri bangunan periode Jawa Tengah. Struktur-struktur bangunan ini sebagian dalam kondisi rusak. Sebagian besar bahan penyusun Candi Tondowongso adalah bata, adapun komponen batu andesit hanya sedikit dan digunakan sebagai penyusun anak tangga
Selain struktur bangunan, pada Situs Tondowongso juga ditemukan sejumlah arca bercorak hindu. Arca-arca tersebut antara lain adalah arca Agastya, Ardhanari, Brahma, Candra, Durga, Nandi, Nandiswara, Surya, lingga dan yoni. Berdasarkan gaya arsitektur bangunan dan arca-arcanya, Candi Tondowongso diperkirakan berasal dari abad XI atau XII Masehi, di mana kurun waktu tersebut adalah masa akhir Kerajaan Medang Periode Jawa Timur yang kemudian dilanjutkan Kerajaan Kadiri.
Selain itu, warga lokal berupaya menjaga kemurnian dan kesucian dari situs ini ketika pertama kali ditemukan sebelum diputuskan untuk dibuka secara umum pada tahun 2016. Selain itu, bendera Merah Putih milik Kerajaan Majapahit diduga berasal dari situs ini karena Bendera Merah Putih milik Kerajaan Majapahit mirip dengan milik Pasukan Jayakatwang dari Kediri.
Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Panjalu-Kadiri. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Korawa, sebagai kiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala.
Selain itu, Mpu Panuluh juga menulis Kakawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Terdapat pula pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu Dharmaja yang menulis Kakawin Smaradahana. Kemudian pada zaman pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana.
KERUNTUHAN
Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama.
Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri.
Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi dekat desa Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari.
Setelah Ken Arok mengalahkan Kertajaya, Kadiri menjadi suatu wilayah di bawah kekuasaan Singhasari. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai bupati Kadiri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang. Jayakatwang memberontak terhadap Singhasari yang dipimpin oleh Kertanegara, karena dendam masa lalu dimana leluhurnya Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan satu tahun dikarenakan serangan gabungan yang dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.
RAJA-RAJA KERAJAAN KADHIRI
Berikut Daftar Raja-raja Kerajaan Kediri yang tercatat dalam berbagai prasasti dan kitab kuno.
1. Sri Samarawijaya
Sri Samarawijaya adalah raja pertama dari Kerajaan Kadiri. Pemerintahannya dimulai dari tahun 1042. Sri Samarawijaya memiliki gelar lengkap Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Teguh Uttunggadewa.
Dalam prasasti Pucangan (tahun 1041) Samarawijaya memiliki jabatan sebagai Rakryan Mahamantri. Pada masa kekuasan Raja Airlangga dan raja-raja sebelum Airlangga, jabatan ini yang paling tinggi setelah raja. Jabatan ini mirip dengan status putra mahkota, pada umumnya dijabat oleh putra atau menantu raja.
Pemerintahan Raja Samarawijaya dikenal sebagai masa kegelapan karena pada masa ini tidak ada bukti prasasti sama sekali. Berdasarkan cerita dalam prasasti Pamwatan dan prasasti Gandhakuti, Raja Samarawijaya naik takhta di saat Airlangga turun takhta menjadi seorang pendeta.
Akhir pemerintahan dari Raja Samarawijaya tidak diketahui dengan pasti. Prasasti yang menceritakan nama raja Kadiri selanjutnya adalah prasasti Sirah Keting tahun 1104 M. Prasasti ini dibuat oleh Raja Sri Jayawarsa. Tidak diketahui apakah Raja Sri Jayawarsa merupakan pengganti dari Raja Sri Samarawijaya, ataukah masih ada raja lainnya di antara keduanya.
2. Sri Jayawarsa
Sri Jayawarsa memerintah di tahun 1104 M. Sri Jayawarsa bergelar Sri Maharaja Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu. Tidak diketahui kapan pastinya Raja Jayawarsa naik takhta sebagai raja Kerajaan Kediri.
Kisah Raja Jayawarsa tercatat dalam prasasti Sirah Keting tahun 1104 M. Dalam prasasti ini dikisahkan jika Sri Jayawarsa sangat mencintai semua rakyatanya. Bahkan dirinya selalu berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat. Prasasti Sirah Keting berisi tentang pengesahan desa Marjaya sebagai tanah perdikan atau sima swatantra.
Tidak diketahui secara pasti kapan Raja Jayawarsa turun takhta. Dari prasasti Panumbangan (tahun 1120 M) hanya menyebut makamnya yakni di daerah Gajapada.
3. Raja Bameswara
Raja Bameswara disebut sebagai raja yang berkuasa selanjutnya di Kerajaan Kediri. Hal ini diketahui dari isi prasasti Pikatan tahun 1117 M. Masa pemerintahan Raja Bameswara banyak catatan yang ditemukan. Prasasti-prasasti ini ditemukan di wilayah Tulungagung dan Kertosono.
Dalam prasasti tersebut banyak memuat masalah keagamaan. Dari kondisi ini bisa diketahui kondisi pemerintahan yang sangat baik.
Tidak diketahui, kapan raja Brameswara turun takhta. Berdasarkan Prasasti Ngantang, raja selanjutnya yang berkuasa adalah Raja Sri Jayabaya.
4. Sri Jayabaya
Dari catatan yang ada, Sri Jayabaya berkuasa sekitar tahun 1135 M hingga 1157 M. Raja ini bergelar Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.
Pada masa pemerintahan Jayabaya, Kerajaan Kediri mencapai puncaknya. Pada masa tersebut, Panjalu mampu mengalahkan Jenggala dan menguasai seluruh takhta Airlangga. Dalam pemerintahan Jayabaya, seluruh wilayah Kediri bisa bersatu.
Banyak catatan prasasti yang ditinggalkan pada masa ini. Catatan prasasti yang ditemukan yakni prasasti Hantang (tahun 1135 M), prasasti Talan (tahun 1136 M), dan prasasti Jepun (tahun 1144 M). Tidak hanya itu, terdapat juga karya sastra berupa kakawin Bharatayuddha (tahun 1157 M).
Dalam babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa disebut jika Raja Jayabaya merupaka titisan Dewa Wisnu. Raja ini memimpin negara yang bernama Widarba dengan ibu kota di Mamenang.
Ayah Jayabaya adalah Gendrayana. Gendrayana merupakan putra dari Yudayana, putra dari Parikesit, putra dari Abimanyu, putra dari Arjuna dari keluarga Pandawa.
Permaisuri Raja Jayabaya bernama Dewi Sara. Jayabaya diketahui memiliki 4 anak yakni Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni dan Dewi Sasanti.
Jayaamijaya menurunkan raja-raja di tanah Jawa, bahkan sampai Kerajaan Majapahit dan juga Kerajaan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja dari Yawastina, melahirkan seorang anak bernama Anglingdarma raja dari Malawapati.
Dalam pemerintahannya Jayabaya menerapkan strategi untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya. Kerajaan pada masa ini sangat makmur, baik dari pertanian maupun perdagangan. Secara ekonomi rakyat Kediri kehidupannya terjamin. Kekuasaan kerajaan juga meluas hingga seluruh pulau Jawa dan Sumatera.
Jayabaya turun takhta dengan cara muksa atau hilang tanpa meninggalkan jasad. Sebelum menghilang, Jayabaya bertapa terlebih dahulu di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Setelahnya, mahkota (kuluk) dan juga pakaian kebesarannya (ageman) dilepas, kemudian raja Jayabaya menghilang.
5. Sri Sarweswara
Raja Sri Sarweswara memerintah pada tahun 1159 – 1161. Raja ini bergelar Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarweswara Janardanawatara Wijaya Agrajasama Singhadani Waryawirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa.
Sri Sarwaswera adalah salah satu raja Kediri yang terkenal sebagai raja yang sangat religius dan juga berbudaya. Hal ini dikisahkan dalan Prasasti Padelegan II tahun 1159 M dan Prasasti Kahyunan tahun 1161 M.
Sebagai raja yang taat agama dan budaya, prabu Sarwaswera memegang teguh dengan prinsip tat wam asi yang artinya Dikaulah itu.
Pemikiran ini berarti dikaulah (semuanya) itu, semua makhluk ialah engkau. Tujuan hidup manusia menurut dari prabu Sarwaswera yang terakhir ialah moksa, yaitu pemanunggalan jiwatma dengan paramatma. Jalan menuju benar ialah sesuatu yang menuju kearah kesatuan dan segala sesuatu yang menghalangi kesatuan ialah tidak benar.
Tidak diketahui secara pasti kapan Raja Sri Sarweswara turun takhta. Berdasarkan isi prasasti Angin tahun 1171 M, raja selanjutnya yang memimpin Kerajaan Kediri adalah Raja Sri Aryeswara.
6. Sri Aryeswara
Sri Aryeswara adalah raja Kediri yang berkuasa pada tahun 1171 M. Raja ini bergelar Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka. Pemerintahan Sri Aryeswara diketahui dari prasasti Angin, tanggal 23 Maret 1171.
Prasasti tersebut menyebut bahwa raja yang kelima dari Kerajaan Kediri adalah Sri Aryeswara yang bergelar Sri Maharaja Rake Hino Sri Aryeswara Madhusudanawatara Arijamuka. Sementara lambang dari pemerintahannya adalah Ganesha.
Hanya sedikit catatan yang bisa diketahui tentang raja ini. Dari prasasti Jaring disebut, kekuasaan Sri Aryeswara dilanjutkan oleh raja Sri Gandra.
7. Sri Gandra
Raja Sri Gandra berkuasa pada 1811 M. Gelar yang dipangkunya adalah Sri Maharaja Koncaryadipa Handabhuwanapadalaka Parakrama Anindita Digjaya Uttunggadewa Sri Gandra.
Masa kepemimpinan raja Sri Gandra terkutip dalam prasasti Jaring (1181 M). Prasasti tersebut menceritakan sang raja yang mengabulkan keinginan rakyat Desa Jaring tentang anugerah raja sebelumnya yang belum terwujud. Pengabulan permohonan ini disampaikan melalui senapati Sarwajala.
Di prasasti tersebut juga diceritakan adanya nama hewan yang digunakan untuk menunjukkan tinggi rendahnya kepangkatan dalam istana. Nama yang tersebut misalnya Menjangan Puguh, Lembu Agra dan Macan Kuning. Tidak diketahui kapan pastinya berakhirnya pemerintahan Raja Sri Gandra. Raja dari Kadiri ini selanjutnya berdasarkan isi dari prasasti Semanding pada tahun 1182 adalah Raja Sri Kameswara.
8. Sri Kameswara
Sri Kameswara adalah raja ketujuh dari Kerajaan Kediri, hal ini tercantum dalam Prasasti Ceker tahun 1182 M serta Prasasti Kakawin Smaradhan. Masa pemerintahan raja Sri Kameswara sekitar tahun 1180 M – 1190 M. Raja ini bergelar Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwariwirya Anindhita Digjaya Uttunggadewa.
Di masa pemerintahan Sri Kameswara seni sastra berkembang sangat pesat. Salah satunya adanya Kitab Smaradhana karangan dari Mpu Dharmaja. Kitab ini berkisah tentang cerita rakyat seperti cerita Panji Semirang. Mpu Dharmaja juga menuliskan kisah tentang kelahiran dari Dewa Ganesha, yaitu dewa berkepala gajah yang merupakan anak dari Dewa Siwa. Ganesha menjadi lambang dari Kerajaan Kadiri sebagaimana yang tercatat dalam prasasti-prasasti.
Beberapa peninggalan sejarah pada masa pemerintahan ini diantaranya, prasasti Semanding (1182 M) dan prasasti Ceker (1185 M).
9. Sri Kertajaya
Sri Maharaja Kertajaya adalah raja terakhir dari Kerajaan Kediri. Raja ini berkuasa pada tahun 1194 M – 1222 M. Di masa raja Kertajaya, Kediri jatuh karena serangan kerajaan Tumapel atau Singashari.
Raja Kertajaya memiliki gelar Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa.
Nama Raja Kertajaya tercatat dalam teks Nagarakertagama (tahun 1365) yang ditulis setelah zaman Kerajaan Kadiri. Sementara dalam teks Pararaton Raja Kertajaya disebut dengan nama Prabu Dandhang Gendis.
Bukti sejarah masa pemerintahan Raja Kertajaya diantaranya tertuang dalam prasasti Galunggung (tahun 1194), prasasti Kamulan (tahun 1194), prasasti Palah (tahun 1197), dan prasasti Wates Kulon (tahun 1205).
Kestabilan pemerintahan Kerajaan Kediri pada pemerintahan raja Kertajaya mulai menurun. Kondisi ini karena raja bermaksud mengurangi hak-hak kaum Brahmana. Sang prabu ingin disembah sebagai dewa, kaum Brahmana menentang keputusan tersebut. Mereka memilih lari dan meminta bantuan dari kerajaan Tumapel dibawah kepemimpinan Ken Arok.
Mengetahui hal ini, Raja Kertajaya lalu mempersiapkan pasukan untuk menyerang Tumapel. Sementara itu. Ken Arok dan dukungan kaum Brahmana melakukan serangan balik ke Kerajaan Kediri. Kedua pasukan itu telah bertemu di dekat Ganter (1222 M).
Dalam pertempuran tersebut pasukan Kediri berhasil dikalahkan. Raja Kertajaya berhasil meloloskan diri , namun sayang nasibnya tidak diketahui. Sejak saat itu kekuasaan Kerajaan Kediri berakhir dan menjadi kekuasaan Tumapel.
Raja-Raja Kadhiri saat Daha menjadi bawahan Singhasari
Kerajaan Panjalu runtuh tahun 1222 dan menjadi bawahan Singhasari. Berdasarkan prasasti Mula Malurung, diketahui raja-raja Dhaha zaman Singhasari, yaitu:
- Mahisa Wunga Teleng putra Ken Arok
- Guningbhaya adik Mahisa Wunga Teleng
- Tohjaya kakak Guningbhaya
- Kertanagara cucu Mahisa Wunga Teleng (dari pihak ibu), yang kemudian menjadi raja Singhasari
- Pada saat Daha menjadi ibu kota Kadiri
- Jayakatwang, adalah keturunan Kertajaya yang menjadi bupati Gelang-Gelang. Tahun 1292 ia memberontak hingga menyebabkan runtuhnya Kerajaan Singhasari. Jayakatwang kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri. Tapi pada tahun 1293 ia dikalahkan Raden Wijaya pendiri Majapahit.
Raja-Raja Kadhiri saat Dhaha menjadi bawahan Majapahit
Sejak tahun 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit yang paling utama. Raja yang memimpin bergelar Bhre Daha tetapi hanya bersifat simbol, karena pemerintahan harian dilaksanakan oleh patih Dhaha. Bhre Dhaha yang pernah menjabat ialah:
- Jayanagara 1295-1309 Nagarakretagama.47:2; Prasasti Sukamerta - didampingi Patih Lembu Sora.
- Rajadewi 1309-1375 Pararaton.27:15; 29:31; Nag.4:1 - didampingi Patih Arya Tilam, kemudian Gajah Mada.
- Indudewi 1375-1415 Pararaton.29:19; 31:10,21
- Suhita 1415-1429 ?
- Jayeswari 1429-1464 Pararaton.30:8; 31:34; 32:18; Waringin Pitu
- Manggalawardhani 1464-1474 Prasasti Trailokyapuri
Raja-Raja Kadhiri saat Dhaha menjadi ibu kota Majapahit
Menurut Suma Oriental tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 Dhaha menjadi ibu kota Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya. Nama raja ini identik dengan Dyah Ranawijaya yang dikalahkan oleh Sultan Trenggana raja Demak tahun 1527.
(Dikutip dari berbagai Sumber)







Komentar
Posting Komentar