Awal Terbentuknya Kampung Mural Bendon Kota Kediri
Mengapa Harus Mural?
Mural adalah cara menggambar pada dinding tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen. Maka dengan definisi diatas bahwa mural tidak bisa dilepaskan dari bangunan dalam hal ini adalah dinding. Berbeda dengan grafiti yang cenderung mengedepankan pada isi tulisan dan dibuat dengan spray paint atau cat semprot, mural lebih bersifat bebas dalam hal penggunaan media cat, baik cat tembok ataupun cat kayu atau bahkan dapat pula menggunakan pigmen warna, kapur dan alat tulis lain yang menghasilkan gambar. Mural lebih berwujud lukisan daripada sekedar tulisan.
Tahun 2016, siapa sangka bahwa dari lorong-lorong kampung di tengah kota ini ada sebuah gerakan yang akan menjadi virus kelak dikemudian hari. Virus yang akan menjangkiti para perupa di kota ini yang mungkin masih skeptis menatap kedepan dengan kondisi saat ini. Inilah militansi mereka dalam sebuah gerakan nyata demi menggugah kegairahan dalam berkesenian di kampung mereka terlebih di kota tempat mereka tinggal. Kediri memang bukan Brazil yang tersohor dengan muralnya, namun dari lorong kampung inilah mereka berharap Kota Kediri iso tangi, setelah sekian lama terlelap dalam tidur panjangnya.
Berbagai wujud atau rupa lukisan mural, bisa dilihat didinding atau tembok hingga jalan perkampungan tersebut. Mural inilah yang menjadikan perkampungan yang dulunya biasa-biasa saja, berubah 180 derajat menjadi luar biasa.
Baik Dodoth dan Siswanto, melakukan muralisasi tanpa ada sponsor utama, alias biaya pembuatan keluar dari kantong mereka berdua.Usai lukisan mural selesai dikerjakan, dijelaskan Dodot, mereka berdua sama sekali tidak menuntut bayaran atau uang lelah sekalipun.
Menurut Dodoth, apa yang dilakukannya tidak lepas dari genre edukasi, dan edukasi diwujudkan dalam seni lukis mural. Diawal-awal, muralisasi yang dilakukan tidak semudah membalik telapak tangan, dan semua itu harus diawali dari diri sendiri sebelum ditularkan kepada orang lain.
Mural berbeda dengan grafiti, walaupun secara pandangan sekilas, baik mural maupun grafiti terlihat sama. Grafiti, bisa diartikan lukisan yang mengutamakan komposisi warna, garis dan bentuk. Lukisan grafiti lebih condong pada gambar kata atau kalimat maupun simbol atau lambang, dan grafiti umumnya menggunakan cat semprot. Sedangkan mural, lukisannya lebih bebas dan luas, dalam artian tidak hanya sekedar lukisan kata maupun simbol.
Untuk proses pengerjaannya, mereka menolak menerima bantuan berupa uang, tetapi mereka hanya menerima bantuan berupa cat dan kuas. Ia mengakui, ada beberapa warga yang perhatian, dengan memberikan bantuan berupa makanan dan minuman saat proses melukis.
Menurut mereka, gerakan mural ini adalah murni dari hati dan inisiatif mereka berdua demi “nguri-uri” budaya dan sebagai ungkapan pemberontakan tentang apa yang mereka gelisahkan. Dengan biaya sendiri dan juga hibah cat dari beberapa warga yang masih mau peduli tentang seni dan budaya, mereka berdua mulai membersihkan tembok-tembok yang kurang terawat. “Tak mudah memang mengawali suatu gerakan, harus dari diri sendiri dan wilayah sendiri dulu, apalagi yang berkaitan dengan kegiatan yang kurang dipahami orang lain,” ungkap Siswanto. Sama halnya dengan Siswanto, Dodoth juga berpendapat, ada baiknya bahwa Budaya yang dulu pernah ada sebaiknya terdokumentasi dalam media lain yang lebih menarik, selain itu menurutnya bahwa Mural adalah sebuah seni jalanan yang mampu merepresentasikan ketidakpuasan tentang apa yang terjadi saat ini. Mereka berdua berpendapat bahwa dengan adanya gerakan militansi mural ini akan memberikan edukasi secara tidak langsung bagi generasi mendatang.
Tentang tembok yang mau digambar, mereka tidak mau gegabah. Walaupun banyak tembok kurang terawat di kampung namun dalam pengerjaannya mereka tetap memiliki etika yaitu meminta ijin lisan dan tertulis dari empunya tembok atau dinding.
Di masa modern mural juga berkembang di Negara Brazil dimana banyak dinding-dinding kota dipenuhi oleh lukisan-lukisan dinding yang menarik, sehingga mampu menggaet wisatawan asing. Di Indonesia sendiri seni mural juga berkembang semasa Agresi Milter II sebagai sarana propaganda kemerdekaan.
Pada perkembangannya, mural telah menjadi bagian seni publik yang melibatkan komunikasi dua arah, Seniman mural melakukan komunikasi secara visual kepada publik tentang apa yang dicurahkan, dan publik akan mampu berinteraksi langsung kepada senimannya sehingga dalam mural komunikasi yang terjalin bukan hanya komunikasi secara visual namun mural juga mampu mendekatkan diri sebagai seni yang tidak hanya berinteraksi secara visual namun juga verbal.
Mural sebenarnya sudah ada sejak jaman prasejarah, seperti yang terdapat pada gua di Lasaux, Perancis. Hanya saja pada waktu itu mural yang dibuat menggunakan pigmen dari tumbuh-tumbuhan dan darah binatang. Isi dari mural tersebut juga menggambarkan tentang kegiatan berburu dan sebagai media informasi kala itu. Seorang perupa ternama Pablo Picasso juga pernah membuat mural untuk memperingati pengeboman tentara Jerman di desa kecil dengan mayoritas masyarakat Spanyol yang berjudul Guernica y Luno tahun 1937. Di Irlandia Utara yang merupakan daerah koflik, mural sangat mudah ditemui di semua dinding kota, hal ini sebagai wujud ungkapan ketidakpuasan dan juga menjadi sarana propaganda politik bagi rakyat Irlandia Utara dalam melawan Pemerintahan Inggris.
Mural sendiri, diambil dari bahasa latin, yaitu kata “Murus” yang berarti dinding, dan secara umum, mural bisa diartikan menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau sejenisnya.
Dulunya, mural dilukiskan sebagai bentuk kritik sosial, tetapi seiring berubahnya jaman, mural beralih menjadi objek promosi, sekaligus penghias tempat-tempat hiburan maupun tempat usaha. Bahkan, di era serba android saat ini, mural tidak lepas dari sorot kamera selfie.
Pada tahun 2021 ini, Kampung Bendon ditunjuk sebagai Pilot Project program Kampung Keren oleh Pemkot Kediri. Sebagai Pilot Project, tentunya Kampung Bendon kembali berbenah, tidak hanya dengan pembaharuan Gambar yang sudah mulai usang, namun sarana penunjang mulai disiapkan, mulai Taman Vertikal, Ruang berkesenian dan berkreasi untuk warga dan juga pengembangan UMKM warga masyarakat. Selain itu, kedepan akan memiliki program-program pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan dan juga seni budaya.


Komentar
Posting Komentar