MURAL 1- 2021 | PRAJNAPARAMITA

 


DASAR IDE PEMBUATAN ILUSTRASI MURAL PRAJNAPARAMITA

ARCA PRAJNAPARAMITA

Prajna paramita adalah salah satu aspek sifat seorang bodhisattva yang disebut paramita.
Arti harafiahnya adalah "kesempurnaan dalam kebijaksanaan" dan merupakan salah satu dari enam atau sepuluh sifat transedental manusia. Selain itu dikenal pula sutra-sutra Prajñāparamitā, suatu jenis literatur Buddha mazhab Mahayana yang berhubungan dengan Kesempurnaan Kebijaksanaan. Istilah Prajñāparamitā tidak pernah merujuk kepada salah satu teks khusus tetapi kepada sebuah khazanah teks.


Sedangkan istilah Dewi Prajnaparamita merujuk kepada personifikasi atau perwujudan konsep kebijaksanaan sempurna dalam naskah ini sebagai bodhisattva-devi (bodhisattva wanita), yakni dewi kebijaksanaan transendental dalam aliran Buddha Mahayana. 

Arca perwujudan Prajnaparamita yang paling terkenal sekaligus terindah kini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Prajñāpāramitā dari Jawa mengacu kepada sebuah citra terkenal Bodhisatwa Prajñāpāramitā, yang berasal dari abad ke-13 zaman Kerajaan Singhasari di Jawa Timur, Indonesia. Arca ini memiliki nilai estetika dan sejarah yang besar, dan dianggap sebagai mahakarya seni Hindu-Buddha klasik Jawa kuno.


Arca perempuan cantik ini  ditemukan di reruntuhan Cungkup Putri dekat Candi Singasari, Malang, Jawa Timur. Menurut kepercayaan setempat, arca ini adalah perwujudan Ken Dedes, ratu pertama Singhasari. Akan tetapi, terdapat pendapat lain yang mengaitkan arca ini sebagai perwujudan Gayatri istri Kertarajasa raja pertama Majapahit.

Arca Prajna Paramita pertama kali diketahui keberadaannya pada tahun 1818 atau 1819 oleh D. Monnereau, seorang aparat Hindia Belanda. Pada tahun 1820 Monnereau memberikan arca ini kepada C.G.C. Reinwardt, yang kemudian memboyongnya ke Belanda dan akhirnya arca ini menjadi koleksi Rijksmuseum voor Volkenkunde di kota Leiden. Pada Januari 1978 Rijksmuseum Voor Volkenkunde (Museum Nasional untuk Etnologi) mengembalikan arca ini kepada Indonesia, dan ditempatkan di Museum Nasional Jakarta hingga kini. Kini arca  tadi ditempatkan di lantai 2 Gedung Arca, Museum Nasional Jakarta.

Teka-teki tentang perwujudan Prajna Paramita sempat merebak. Ada yang menganggap itu adalah sosok Ken Dedes. Namun, ada yang berpendapat adalah sosok Gayatri Rajapatni.
Patung Prajna Paramita, jika ditilik gaya artistiknya bisa dibuktikan berasal dari gaya era Majapahit (Majapahit style), dan diyakini sebagai perwujudan Gayatri Rajapatni.
 
MANTRA PRAJNAPARAMITA
ryavalokitesvara Bodhisattva gambhirayam prajnaparamitayam caryam caramano vyavalokayati sma panca-skandha
Tams ca svabhava sunyam pasyati sma,Iha Sariputra, rupam sunyata, sunyata iva rupam rupa na prthak sunyata, sunyataya na prthak rupam yad rupam sa-sunyata ya sunyata tad-rupam
Evam eva vedana samjna sam-skara vijnanani Iha Sariputra sarva dharma sunyata-laksana anutpanna aniruddha amala vimala, nona na-paripurna
Tasmat Sariputra sunyatayam na rupam na vedana, na samjna na samskara, na vijnanani na caksuh srotra ghrana jihva kaya manamsi
 
na rupam sabda gandha rasa sparastavya dharma na caksur-dhatu yavan na mano vijnana-dhatu na vidya, navidya-ksayo yavan na jara-maranam na jara-marana ksayo na dukkha, samudaya, nirodha, marga na jnanam, na praptir na abhisamaya Tasmac na apraptir tva Bodhisattvasya prajnaparamita
 
asritya viharaty acittavaranah cittavarana nastitvad atrasto vi-paryasati-kranto nistha nirvanam Tri-adhva vyavasthita sarva buddha prajna-paramitam a-sirtya anuttara-samyak-sambodhim abhi-sambuddha Tasmat jnatavyam prajna-paramita maha mantro maha-vidya mantro, nuttara mantro sama-sama mantra
 
Sarva dukkha pra-samana satyam amithyatva prajna-paramitayam ukho mantra tadyata gate gate paragate parasamgate bodhi svaha iti prajnaparamita hrdayam samaptam.
 
Terjemahannya:
Prajñāpāramitā Hṛdayasūtra (Sutra Hati)
Om sujud kepada Arya Bhagavati Prajnaparamita!
Saat itu, Arya Avalokiteshvara sedang menyelami Prajnaparamita, namun yang tampak dalam pengamatan dia hanyalah panca-skandha yang bersifat shunya dari svabhava.
 
Oh Sariputra, wujud adalah shunyata, shunyata adalah wujud; shunyata (kekosongan) tak lain dari wujud, wujud tak lain dari shunyata (kekosongan); wujud apa pun itu shunyata (kekosongan), shunyata (kekosongan) apa pun itu wujud. Begitu juga sensasi, pembedaan, aktivitas-aktivitas mental yang lain, dan kesadaran.
 
Oh Sariputra, semua dharma bersifat shunya (kosong); tiada yang muncul dan tiada yang lenyap; tidak bernoda dan tidak murni; tiada yang kurang dan tiada yang lengkap.
 
Oleh karena itu, Sariputra, dalam shunyata tiada wujud, tiada sensasi, tiada pembedaan, tiada aktivitas-aktivitas mental yang lain, tiada kesadaran; tiada mata. Tiada telinga, tiada hidung, tiada lidah, tiada badan, tiada unsur kesadaran. Tiada wujud, tiada suara, tiada bebauan, tiada rasa, tiada objek sentuhan, dan tiada dharma. Tiada indra penglihatan, dan sebagainya, termasuk tiada unsur kesadaran. Tiada kesalahpengertian, tiada berakhirnya kesalahpengertian, dan sebagainya, termasuk tiada penuaan dan kematian, tiada berakhirnya penuaan dan kematian. Tiada duhkha, tiada sebab duhkha, tiada berakhirnya duhkha, tiada jalan untuk mengakhiri duhkha. Tiada pengertian, tiada yang dicapai, dan tiada yang tidak dicapai.
 
Maka Sariputra, karena tiada yang ingin dicapai, dengan mengandalkan Prajnaparamita, Bodhisattva bebas dari segala gangguan pikiran. Karena bebas dari segala gangguan pikiran, mereka tidak gentar. Dan dengan mengatasi penyebab halangan-halangan, pada akhirnya mereka mencapai Nirvana.
 
Semua Buddha di tiga masa, mencapai tingkat yang tak terbandingkan, Penggugahan agung yang lengkap dan sempurna, dengan mengandalkan Prajnaparamita.
 
Maka ketahuilah Prajnaparamita adalah mantra agung, mantra pengetahuan agung, mantra yang tertinggi, mantra yang tak terbandingkan, yang secara tuntas mengatasi semua duhkha. Mantra yang harus dimengerti sebagai kebenaran sejati, yang tidak mungkin palsu. Dengan Prajnaparamita, diutarakanlah mantra ini:
Tadyatha Gate Gate Paragate Parasamgate Bodhi Svaha
Demikianlah Prajnaparamita Hrdaya Sutra.
 
(Diterjemahkan dari bahasa Sanskerta ke bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Revisi: Mei 2012)
 
Prajñāpāramitā Hṛdayasūtra (Sutra Hati)
Sutra hati adalah sebuah sutra yang terkenal dalam Buddhisme Mahayana, yang merupakan inti sari dari Sutra Kesempurnaan Kebijaksanaan (Maha Prajna Sutra). Meskipun hanya ditulis dalam 260 aksara Mandarin, Sutra Hati mengandung kebijaksanaan paling mendalam dalam Buddhisme. Ajaran Buddha Dharma tentang Prajna (Kebijaksanaan Sempurna) sedalam samudera dan seluas alam semesta. Maha Prajna Sutra yang lengkap dibabarkan oleh Guru Agung Shakyamuni Buddha selama 22 tahun (dari 49 tahun pengajaran-Nya), tersusun dalam 600 jilid. Sutra Hati yang diterjemahkan dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Mandarin memiliki 14 versi, namun makna dan inti ajarannya semua sama. Terjemahan dari Maha Bhiksu Xuanzang dinilai efektif, sehingga terpilih, diambil, dan dipergunakan oleh seluruh kalangan Buddhis. Versi Sutra Hati yang paling awal di Tiongkok dalam bahasa Mandarin adalah berasal dari terjemahan Kumarajiva, yang sampai sekarang sudah memiliki sejarah lebih dari 1500 tahun. Menurut terjemahan Mahaguru Kumarajiva, sutra ini dibawakan sendiri oleh Sang Buddha.


 
ILUSTRASI MURAL PRAJNAPARAMITA

Atas dasar literatur diatas, maka sebuah ide muncul untuk membuat sebuah ilustrasi mural yang menggambarkan sebuah perenungan dan proses mencapai Kesempurnaan dan Kebijaksanaan, Prajnaparamita. Ilustrasi Mural ini dalam pengerjaan memakan waktu 2 hari dan selesai pada tanggal 12 Februari 2021.

Komentar